Gagah dan semangat layaknya pasukan perang, itulah yang nampak dihadapan
kita, manakala kita masuk di desa Kotayasa pada acara-acara penting
pedesaan. Nampak diatas persiapan Linmas Desa Kotayasa menjelang
Penjaringan Calon Perangkat Desa tahun 2009 lalu. Melihat TNI berbaris
atau POLRI berbaris dengan rapi, itu hal yang wajar, mengingat untuk
seperti mereka dibutuhkan seleksi yang ketat dan pelatihan yang tidak
menghabiskan waktu dan biaya yang sedikit.
Menjadi seorang LINMAS/HANSIP di desa Kotayasa hanya dibutuhkan semangat
beribadah dan keikhlasan mengabdi kepada masyarakat, agama dan desa,
kalau tidak demikian maka siap-siaplah menjadi orang yang kecewa. Mereka
tidak mendapatkan imbalan apapun, baik dari masyarakat maupun desa.
Paling-paling hanya pakaian seragam dari desa dan Pemerintah menjelang
Pemilu.
Rupanya jiwa pengabdian mereka cukup besar, lebih besar dari para
anggota dewan kita, yang sudah cukup tinggi gajinya masih suka cari-cari
alasan untuk bisa meningkatkan sripilan mereka.
Sayang, keberadaan mereka kurang mendapat perhatian dari kita semua,
bahkan lebih banyak dijadikan bahan ketawaan di layar televisi sebagai
dagelan. Televisi tidak tahu betapa mereka begitu berarti, betapa banyak
orang yang mestinya masuk penjara, namun tidak jadi mencuri karena ada
HANSIP, betapa banyak orang yang mestinya masuk neraka tapi tidak jadi
karena mau nyuri istri orang ketauan HANSIP.
Dalam hati mereka ada ketulusan bahwa orang yang baik adalah orang yang
banyak memberikan manfaat baik masyarakat bukan orang yang selalu
memanfaatkan masyarakat untuk kepentingan perutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar